Politik dan Cinta dalam “Sophismata” by Alanda Kariza

Selama tinggal di Thailand, buku bacaan saya mostly dalam bahasa Inggris dan pulangnya masih membawa “PR” buku – buku yang belum dibaca. Akhirnya, karena keterbatasan kantong juga sih, saya membatasi beli buku, tetapi saya rindu baca novel dalam bahasa Indonesia dan kebetulan pas ke mall tanggal 9 Juli kemarin, buku ini sudah ada di Gramedia (padahal katanya baru launching tanggal 10 Juli).
Saya membaca Sophismata nonstop, selesai lho dalam semalam hehe 🙂

Btw, saya agak penasaran tentang apa sih artinya ‘Sophismata’. Berdasarkan hasil googling ecek – ecek, Sophismata adalah sebuah kalimat yang membingungkan atau ambigu bila dipahami secara literal. Kalau dihubung – hubungkan sih mungkin ada ya hubungannya dengan bahasa – bahasa politik.

 

sophismata-by-alandakariza

Gramedia.com

Cover

Saya suka banget ilustrasi cover-nya. Sayangnya, tipe kertas cover-nya saya kurang suka karena mudah terkelupas pinggiran-nya huhu. Baiknya disampul ya 🙂

 
Sinopsis

Well, saya berusaha menulis sinopsis yang beda dengan halaman belakang ya.

Seperti hal-nya anak – anak milenial dengan pengalaman kerja pertama 2 – 3 tahun, Sigi, seorang wanita yang bekerja di DPR, mulai merasakan hal – hal yang tidak sesuai dengan harapan. Atasan yang awalnya diharapkan bisa menjadi tempat belajar, ternyata kurang mendukung Sigi untuk karir yang lebih tinggi. Lingkungan kerja Sigi pun cukup misoginis. Suatu hari, Sigi bertemu Timur, seorang laki – laki yang semula bekerja untuk law firm ternama kemudian resign untuk cita – citanya, mendirikan partai politik. Sigi cukup skeptis dengan politik, Timur cukup optimis dengan politik. Sigi cenderung absolut terhadap segala sesuatu, Timur cukup abu – abu. Buku ini melirik bagaimana menyelesaikan masalah di dunia kerja dan mengambil keputusan terbaik untuk diri sendiri.

 

Personally,

Secara umum, apa yang dialami Sigi dan Timur sangat milenial sekali. Sigi yang berusaha bertahan dengan idealisme dan hitam-putih-nya, sedangkan Timur cenderung lebih tolerable dengan hitam-putih dunia politik, resign dari pekerjaan bergaji besar demi cita – cita. Background politik sendiri cukup tidak umum, mungkin lebih umum dengan IT atau fashion, seperti maraknya milenial yang resign dari pekerjaan demi mencari sesuatu yang lebih meaningful. Nah, tetapi politik itu lah berusaha dijadikan nafas dalam buku ini. Buku ini cukup banyak menyebut pengetahuan politik, seperti istilah sosialis – demokratis, pendirian partai politik, pahlawaang berpolitik, dsb. Menarik? Iya, saya suka novel yang memberi tahu saya hal baru yang kalau bukan sedang baca novel, tidak akan saya cari sendiri. Muatan politisnya sendiri, masih bisa ‘ditambah’ sih menurut saya, tetapi politik mungkin sedang jadi obrolan sensitif hehe 😀

Di bawah judul di cover buku ini, terdapat tulisan, “What happens when you dislike politicians so much yet you fall in love with one?” Nah, buku ini memang romansa, tetapi gak cheesy. Bukan kisah cinta sempurna yang sering ditawarkan novel romansa pada umumnya. Sigi dan Timur sering berdebat tapi saling memberi masukan. Timur cukup sabar menghadapi Sigi yang assertif, penuh pertanyaan tajam. Di saat buruk terjadi, Timur bukan tampil sebagai malaikat penolong, dia tahu bagian mana yang Sigi bisa putuskan dan lakukan sendiri, jadi Timur akan memberi waktu. Meskipun Timur senang retorika, Sigi menjadi ‘partner’ retorika yang sepadan karena bisa membalas. I think this kind of relationship juga menjadi goals buat para milenials, lepas dari yang ngebet nikah tentunya *peace

Saya merasakan effort penulis dalam riset menulis buku ini. Meskipun mungkin obrolan politik membuat kita cenderung take sides, saya salut bahwa penulis berusaha menghadirkan politik dan berusaha tidak membuat antipati. Alanda sudah terbukti bagus banget menulis pure romance dengan segala kegalauannya, seperti di “Beats Apart” (saya baca versi tumblr), jadi novel ini menjadi terobosan gaya dan tema penulisan bagi Alanda.

Buku ini sangat bisa menjadi lebih berat, tetapi sepertinya hal yang ‘terlalu politis’ sering kali membuat orang merasa enggan, saya rasa buku ini lebih ingin mengenalkan sekilas tentang politik dan bagaimana memandangnya. Enjoy!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s