Review: Dark Places (book by Gillian Flynn)

Have I say that Gillian Flynn is one of my favorite author?

dark places cover

audiostore.com

Saya benar – benar fall in love dengan cara bertutur Gillian Flynn yang menurut saya kreatif sekali. Terutama kreatif dalam hal ‘membodohi’ pembaca dengan twist – twist nya.

Membaca sinopsis di cover belakang buku ini memang membuat diri merinding. Setiap saya membaca buku ini, kemudian ada yang nanya ‘baca buku apa, Din?’, saya biasanya akan mengangkat buku sehingga mereka bisa melihat cover dan membaca sekilas synopsis-nya, mayoritas akan berkata, ‘serem amat’.

Yup, saya pun awalnya merasa begitu. Namun, tidak setelah membacanya. Buku ini terbit sebelum ‘Gone Girl’, tetapi saya membaca ‘Gone Girl’ lebih dahulu.

 

Sinopsis

Libby Day adalah anak ke-empat (terakhir) dari sebuah keluarga petani miskin. Suatu hari sebuah pembunuhan terjadi di keluarga Libby yang menewaskan ibunya dan kedua kakak perempuannya. Pada saat itu, Libby baru berumur 7 tahun, satu – satunya keluarga yang masih hidup adalah kakaknya, Ben Day, yang kemudian menjadi tersangka. Ben pun dipenjara selama puluhan tahun, meskipun evidence yang ada sebenarnya tidak cukup menyatakan Ben sebagai tersangka.

Sesuatu hal membuat Libby dewasa berniat mencari tahu kejadian yang sudah berlalu 20an tahun itu. Dengan minimnya ingatan Libby yang pada saat itu masih kecil, ia berusaha menemukan satu persatu potongan cerita tentang kejadian di malam pembunuhan itu.

 

Plot dan Sudut Pandang

Saya terobsesi dengan cerita yang memiliki timeline tidak berurutan. Kita akan dibawa ke masa lalu, masa sekarang. Selain itu, meskipun sudut pandangnya adalah orang ketiga, tetapi penulis bercerita sebagai orang ketiga yang berdampingan dengan Libby, kemudian dengan Ben, kemudian dengan Ibu Libby, dsb. Di sinilah bagaimana kita mengumpulkan pecahan cerita, dan mengaitkan apa yang diketahui oleh setiap karakternya.

sheknows

sheknows.com

Chaos. Itulah kata yang bisa mewakili kejadian di malam pembunuhan itu: masalah yang tumpang tindih, beberapa karakter ‘bodoh’ tapi beralasan (karena faktor usia muda dan tekanan ekonomi). Di sinilah kita akan dibuat berkaca bahwa hidup kita baik – baik saja, banyak orang di dunia ini menghadapi masalah yang dihadapi keluarga Libby. Karakter Ayah yang abusive dan ‘gak guna’ juga menambah sisi gelap cerita. Di luar semua itu, in the end, kita akan tahu betapa luar biasa perjuangan, pengorbanan, dan kekuatan seorang Ibu.

Itulah yang saya suka dari sebuah cerita yang dark. Ada sisi background yang dark juga, tetapi dark ini sebenarnya cukup ‘manis’, meaningful, dan romantic (karena rasa cinta dalam cerita ini tidak digambarkan dengan corny / lovey-dovey, tapi kita akan tetap merasakan sincerity-nya).

Buku/cerita yang bagus adalah yang berhasil membuat kita jatuh cinta pada ketidaksempurnaan karakternya, yang bisa membuat kita merasa sedih, dan yang bisa membuat kita memaafkan kesalahan karakternya tanpa ada apology. After all, tidak ada karakter manusia sempurna, and for every chaos we make, we always want to be forgiven, right?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s