Review “Lean In: Women, Work, and the Will to Lead” by Sheryl Sandberg

lean20in1

cdn.hercampus.com

Saya harus mengaku bahwa saya telat banget baru baca buku ini sekarang, sementara buku ini sudah terbit sejak 2013. But, maybe this is the right time sih hehehe. This is a must-read book for independent women karena buku ini jelas akan menyemangati 🙂

 

Lean In adalah salah satu buku paling berpengaruh dalam dunia feminism di era milenial ini. Penulisnya, Sheryl Sandberg, adalah seorang wanita lulusan Harvard yang kini menjabat sebagai COO (Chief Operating Officer) Facebook. Buku ini terdiri dari 220-an halaman, tetapi isi bukunya sendiri hanya 170-an, sisanya adalah notes yang memuat hasil – hasil riset yang mendukung berbagai topik dalam bukunya.

Sandberg membuka buku ini dengan sebuah intro menarik, yaitu pengalamannya saat sedang hamil besar, ia kesulitan mencari tempat parkir dan harus kepayahan berjalan menuju kantor Google (sebelum ia kemudian pindah ke Facebook). Setelah itu dia complain sama bos – bos Google, yah secara dia juga udah level tinggi, pendapat dia didengar dan dibuatlah parkir khusus ibu hamil 🙂

Selanjutnya, bagian yang cukup ‘nampol’ buat saya adalah, kadang wanita sulit untuk improve atau progresif dalam karir karena wanita itu sendiri membatasi impian, atau istilahnya ‘ambition gap’. Coba deh, ingat cita – cita kita dari pertama banget sampai berubah – ubah, sampai akhirnya tercapai kerjaan yang sekarang. Pernah kah kita menyerah akan mimpi yang lebih tinggi karena berpikir mimpi kita tidak cocok untuk mimpi seorang wanita. Saya pernah. Sejak itu, apa kita jadi semangat untuk mengejar kompetensi, tentu tidak kan? Jadi, menurut Sandberg, kita harus menghilangkan dahulu faktor gender inequality dalam target mimpi kita. Karena semua langkah progresif, akan bisa kita bangun, kalau kita sudah punya tujuan dan men-deploy jadi langkah – langkah kecil kita.

Berikutnya, menghadapi ‘kenyataan’ bahwa untuk hal yang sama, bisa menjadi sesuatu yang buruk bagi wanita. Kalau berdasarkan pengalaman saya pribadi sih, masuk jurusan Teknik Kimia saja sudah ada yang bilang buruk buat wanita (makanya baca SDS dong). Trus, ikutan program training kantor, banyak yang mendukung sih, tapi apa ada yang mencibir, wah banyak juga. Let’s compare if it happens for men, hehehe. Itulah kenyataan bahwa gender inequality masih ada terutama dalam tataran society. Namun, seperti kata – kata bernada pembenaran yang saya dan teman – teman sering jadikan penyemangat: society doesn’t pay our bills.

e64d3cc4f0e73e9745533ae8ecf96f63

judgement on pinterest

Belum lagi masalah kalau sudah berumah-tangga dan apalagi punya anak. Saya belum menikah, belum punya anak, and it may sounds judgmental if I say something about this. Tetapi, hal yang saya harap bisa saya capai dan mungkin juga bagi semua orang adalah menjalankan apa yang menjadi impian-nya. Kalau seorang ibu ingin menjadi stay-at-home mom, ya itu karena pilihannya, begitu juga yang ingin menjadi working mom. Anyway, kedua-nya toh sama – sama ibu.  Menurut saya, tidak bijak ya, jika misalnya kita berkata kepada anak kita kelak, ‘Ibu menyerah pada cita – cita Ibu karena kamu’. Mungkin yang diharapkan itu menjadi reminder supaya si anak belajar dengan giat dan jadi ‘orang’, atau dengan kata lain kita sedang menaruh cita – cita kita menjadi cita – cita si anak? Pantas kan masih musim ada istilah helicopter parents hehehe. Hal itu bisa berpengaruh juga dengan kesan si anak hadir tanpa keinginan kita. Dalam hal ini saya pun juga meng-iya-kan ide tentang shared parenting, di mana peran Ayah dan Ibu dalam mengurus anak diusahakan se-balance mungkin.

Buku ini menurut saya banyak lucu-nya, beberapa bagian benar – benar hilarious sampai saya gak nyadar ketawa – ketawa di mobil atau di halte bus. Terutama jokes – jokes yang tentu saja hanya akan dipahami bagi wanita yang kerja di lingkungan penuh laki – laki (seperti melempar tatapan datar untuk terrible bro/dad jokes, meh). On the other hand, beberapa bagian membuat saya bersyukur bahwa Indonesia itu masih lebih baik daripada beberapa negara dalam hal support wanita untuk bekerja; di Indonesia, cuti melahirkan 3 bulan dan tetap digaji penuh, bahkan ada cuti hari pertama haid (meskipun yakin banyak yang jarang menggunakan). Salah satu hal yang bikin saya agak terenyuh, ada seorang wanita di Middle East sana yang bahkan di kantornya gak ada toilet wanita, dia tersenyum bangga ketika akhirnya dia bisa mengupayakan ada toilet khusus untuk dia, ya karena she is the only woman in her office, lainnya cowo semua.

1798625253-lean_in_sheryl

Overall, buku ini benar – benar menyemangati saya untuk …. semakin mengejar standard saya sendiri. Our society is cruel, really. Mari bermimpi lagi tanpa batasan, dan cukupkan pada diri kita atas excuse yang kita ciptakan sendiri dalam meningkatkan kualitas diri. Buku ini juga mengingatkan saya akan mimpi – mimpi yang sempat saya anggap ‘tidak mungkin, tidak untuk saya’. Buku ini mengingatkan saya untuk membangun lagi kompetensi diri saya, untuk tidak menyerah duluan kalau melihat yang rumit – rumit, untuk sabar berkutat pada technical term lagi, untuk merasa percaya dan cinta pada diri saya lagi. Tentu saja ada hal – hal yang seolah kita bilang ‘ya, kita kan cewe’. I will just laugh. Kita punya banyak kelebihan, we can be smart and strong physically and mentally. Thank you for your meaningful book, Sheryl Sandberg 🙂

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s