Membeli Rumah dengan KPR Bank Mandiri

“Being a highly motivated engineer is one of the expectations from my boss for sending me here.”

“Oh, it is easy. Get yourself a big loan and installment”, my mentor said.

“Yes, I have one.”

We laughed

Hal pertama yang harus dipahami sebelum membeli rumah adalah punya tujuan. Maksudnya, janganlah beli rumah karena “ingin saja” atau “ikut-ikutan”. Saya sendiri sebenarnya termasuk juga milenials yang tidak mau terlalu dipusingkan dengan cicilan KPR, saya terbuka pada kesempatan karir di mana saja sehingga rasanya beli rumah malah bisa nambah pikiran (pas beli sih mikirnya buat kalo udah nikah hahaha padahal ya gitu deh). Kalau buat investasi, juga dipikirkan daerahnya dan apakah kemungkinan harga property akan terus naik dibanding bunganya.

Btw, proses di bawah ini terjadi sekitar awal 2016 ya, jadi ada kemungkinan peraturan yang berubah 🙂

Tentukan rumah yang ingin dibeli

Pasti pilih rumahnya dulu, baru pilih bank-nya kan? Hehe. Yang perlu diperhatikan, pastikan developer kamu cukup terpercaya. Lakukan cross-check, tanya – tanya ke yang sudah pernah beli rumah. Developer yang tidak terpercaya sangat riskan, bukan menakut – nakuti, tetapi kenyataannya banyak developer penipu: status tanah bermasalah, jalan ga dibangun, kualitas bangunan jelek, dll. Biasanya pertimbangan kebutuhan:

–          Jumlah kamar dan lantai, luas tanah dan bangunan

–          Lingkungan tempat tinggal

–          Rumah baru/second

–          Budget

Siapkan DP (Down Payment)

Proses pembelian rumah saya sebenarnya cukup panjang sejak sebelum KPR. Ada sebuah perumahan di Cilegon yang mempunyai promo employee housing. Setelah nanya – nanya, rumah yang saya ingin ada di cluster yang sudah jadi, tetapi rumah untuk program employee housing itu belum jadi. Jadi, ada waktu untuk mencicil uang muka. Btw, untuk rumah pertama, ada keringanan bahwa DP bisa 10%.

Tadinya, saya berniat mencicil DP sebanyak 12 kali, Alhamdulillah bisa selesai lebih cepat. Waktu itu, karena saya keburu ada penugasan kantor ke luar negeri, saya ingin buru – buru KPR. Langkah saya ini bisa dibilang reckless. Rumah belum dibangun, alias masih indent¸ tetapi saya sudah masuk KPR. Kalau developer-nya bukan tier 1, saya gak akan ambil langkah ini, dan pasti juga gak akan di-approve oleh Bank.

Setiap ada yang nanya ke saya tentang proses KPR, saran saya: siapkan DP sebesar – besarnya. Menyiapkan DP melatih kamu untuk menabung dan dengan DP besar, cicilan kita akan kecil karena lebih sedikit bunga yang kita bayarkan ke bank. Juga sekedar tips yg diterapkan oleh beberapa teman, kalau misal kita punya cukup banyak DP, dan dana sisanya masuk plafon untuk pinjam di koperasi kantor (misalnya aja, atau pinjaman selain KPR yang bunganya lebih terjangkau), termasuk hal yang bisa dipertimbangkan.

Apply KPR

  1. Pilih beberapa bank untuk kamu apply KPR, saya waktu itu pilih 3: CIMB Niaga, Bank Mandiri, dan BTN. Kamu bisa pilih berdasarkan preference, kemudahan approval, dan tentu saja promo bunga-nya. Pilihan saya waktu itu, termasuk untuk rekomendasi dari sales developer. Kebetulan sales developer cukup membantu, tetapi agak pilih – pilih hehe. Dia tidak merekomen BII dan BCA, walaupun menurut saya BII dan BCA punya promo bunga yang menarik. Dia juga tidak merekomen Bank Syariah karena prosesnya lama (kata dia).
  2. Siapkan berkas. Berkas standard: fotokopi KTP, fotokopi KK, rekening koran 3 bulan terakhir, fotokopi buku tabungan, surat keterangan kerja dan domisili (waktu itu punya saya disatukan suratnya), slip gaji 3 bulan terakhir, dan form apply KPR. Yang unik dari Bank Mandiri ini, salesnya sudah menghubungi saya dari sejak saya masih mencicil DP! Karena kebetulan payroll kantor via Mandiri, jadi banyak dokumen yang dia tidak minta.
  3. Setelah memasukkan berkas, biasanya ada telepon untuk wawancara. Saya ingat diwawancara via telpon oleh ketiga bank tersebut. Intinya, wawancara hanya untuk mengklarifikasi data – data kita dan memastikan kita tidak punya kredit macet.
  4. Menunggu. Hahaha.
  5. Approval. Jika diterima, bank akan memberikan ‘SP3K’ alias Surat Penegasan Persetujuan Penyediaan Kredit. Di situ akan ada plafon cicilan yang di-approve, tenor-nya berapa tahun, promo bunga-nya, besar cicilan, dan aturan – aturan yang ada di dalamnya. Jangan lupa bertanya pada sales KPR, berapa biaya KPR yang diperlukan. Biaya KPR mencakup asuransi, provisi, dll; besarnya bisa berbeda – beda, dalam case saya sekitar 3% dari plafon (beda bank, beda peraturan tentang biaya KPR). Cari tahu apakah ada aturan lain, seperti BCA misalnya pernah memberi promo KPR, dimana kita juga harus menyetorkan saldo mengendap sebanyak 3x cicilan.
  6. Akad KPR. Di sini, kita bakal menandatangani banyak sekali berkas yang tentunya tidak akan sempat dibaca seluruhnya, tapi juga jangan sampai tidak dibaca. Pada proses akad, ada notaris dan analyst bank yang menemani dan menjelaskan beberapa hal tentang proses KPR dan serah – terima rumah.

Hal – hal lain:

–          Yang lucu, saya ga pernah ketemu sales KPR dari Bank Mandiri, semua komunikasi via whatsapp dan email, tapi justru cepat banget, dari pengajuan ke approval kurang dari 3 minggu. Justru dengan sales KPR bank lain, saya serahkan sendiri berkas – berkasnya. Alhamdulillah, disbanding yang lain yg saya apply, ini paling cepat, bunga paling rendah, dan fixed rate paling lama.

–          Manfaatkan sales developer untuk membantu. Biasanya, developer punya preference bank, dan lebih mudah prosesnya. Ada teman saya yang developernya bermitra dengan BTN syariah, sehingga bisa langsung KPR disana.

–          Untuk wiraswasta, siapkan bukti – bukti usaha. Ini case ibu saya, karena beliau usaha kuliner, jadi brosur dan packaging yang berlabel brand kuliner, difoto-foto untuk menjadi bukti usaha, bisa pakai SIUP juga sih (yup, saat ini saya ada 2 KPR bersamaan *usap keringat, kalau ibu saya KPR di BNI Syariah)

–          Awalnya saya galau dapat approval karena cicilan yang diajukan sekitar 40% dari take-home pay, tapi ternyata masih bisa. Saya dengar sih kalau masih single bisa sampai 50% dari THP. Kalau join-income suami-istri, memang hanya sekitar 30 – 35% THP.

–          Waktu itu saya dapat promo KPR Imlek (bunga 8.5% pa fix 5 tahun) hehehe.

–          Skema perhitungan bunga bank Syariah sebenarnya sama saja dengan bank Konvensional, hanya setelah itu oleh bank Syariah akan dihitung ulang sebagai margin (bukan bunga). Margin yang dihitung oleh bank Syariah biasanya setara bunga 12%  – 14% jika dihitung dengan metode anuitas bank konvensional. Bedanya, dalam bank Syariah tidak ada bunga floating dan mekanisme pelunasan sebagian tidak akan berpengaruh ke pokok hutang ataupun margin (untuk yang berencana melunasi sebagian, mekanisme bank syariah menimbulkan kerugian secara ekonomis). Oleh karena itu, menurut saya, mekanisme bank syariah bermanfaat jika kita mengambil cicilan dengan tenor tidak terlalu lama (di bawah 10 tahun). Namun, untuk masalah akad, ya mungkin bagi sebagian orang tidak bisa ditawar ya *peace

–          Beberapa bank mempunyai promo KPR berbunga rendah/subsidi untuk yang penghasilannya sekitar 4 juta rupiah (non DKI Jakarta, batasan gaji bisa berbeda tiap daerah). Namun, program ini mungkin kadang kurang terdengar, bagi yang penghasilannya memasuki range ini, bisa dicoba untuk langsung ditanyakan ke bank bersangkutan (BTN dan Bank Mandiri setahu saya ada program ini).

–          Lepas dari masa promo (fixed rate), bunga akan mengikuti mekanisme floating. Pelajari performa floating dari teman – teman yang sudah lepas dari promo. Memang ada beberapa bank yang nggilani performa floatingnya. Untuk ini, saya sempat terpikir apply BII karena BII pernah ada promo di mana floating rate-nya setara BI rate + 3.25% (sudah dipastikan selisihnya dengan BI rate). Menurut saya, ini good deal sehingga kita tidak perlu was was kalo sudah memasuki masa floating.

Semangat memasuki tahapan dewasa selanjutnya dengan ‘terikat’KPR 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s