Review: Big Little Lies

Ketika kita beranjak dewasa, ada hal – hal yang seolah hilang, salah satunya saya rindu membahas kehidupan dan permasalahannya. Bukan dalam konteks curhatan galau tentang ‘kapan nikah’, tapi tentang ‘what happens around us’ dan pandangan kita. Salah satu isu yang sangat ingin saya bicarakan tapi gak mendapat partner yang pas adalah abusive relationship.

Membaca adalah cara saya mengobati kerinduan membahas ini – itu. ‘Big Little Lies’ memberi saya kesempatan untuk melihat dan merasa tentang kehidupan nyata di sekitar itu, melihat dari sudut pandang yang abu – abu, bukan mutlak benar atau salah (yang rasanya saat ini senang didengungkan orang – orang).

‘Big Little Lies’ yang saya baca dalam bahasa Inggris, entah ada bahasa Indonesia-nya atau tidak, tapi saya yakin kalau diterjemahkan, wittiness seorang Liane Moriarty bisa hilang. So, just bear to read the English version. It is not that hard to understand kok 😀

 

19486412

goodreads.com

 

Cara bercerita

Terlepas dari isinya, cara bercerita adalah daya tarik membaca yang membuat kita fall in love dengan penulisnya. Yes, I do fall in love with the way Liane wrote this novel. Saya seperti sedang mendengar seorang sahabat perempuan bercerita. Lucu, hangat, kesal, sedih, dan marah, semua bisa terasa. Dia menulis dengan unik, seperti idenya mencantumkan potongan interview. That is so genius and witty.

 

Ide cerita

Latar belakang ceritanya adalah tentang kehidupan orang tua dari anak – anak yang bersekolah di TK yang sama.  Ketiga tokoh wanita utamanya adalah Madeline (yang sangat sensitive, mudah meledak, protektif), Jane (young single mom), dan Celeste (beautiful educated woman, memilih bertahan dalam pernikahan yang terrible). Ada yang ribet dengan cerita pernikahan sebelumnya, kenangan buruk masa lalu, dan abusive behavior. It really broke my heart when I read that. Di satu sisi, we easily relate. Perempuan dengan kekuatannya akan selalu berusaha bertahan, berusaha melindungi semua, dan somehow terjebak insecurity-nya sendiri dengan mengatakan ‘he is better than others’ walaupun sudah disakiti sebegitunya. That is real, I mean, how many women stand for their terrible marriage just because they want to do their best, walaupun dalam hati dan fisik mereka benar – benar terluka.

Di sisi lain, buku ini pasti akan membuat kita ingat pada ibu kita. Membaca buku ini kita akan sadar mungkin ada hal – hal yang kita lupakan dalam kita mencintai ibu kita, ada perjuangan – perjuangan yang tidak kita lihat. Memahami Madeline dan anak remajanya, Abigail, benar – benar bikin saya ingat masa – masa rebel (yang masih sampai sekarang).

Endingnya, menurut saya, cukup twist! Siap – siap saja bakal kaget sekaligus senyum sih 😀

Such a perfect book to open this 2017!

PS. Anyway, baru tahu kalau ini akan ada seriesnyastarring Nicole Kidman, Reese Witherspoon, dan Shailene Woodley. Sepertinya akan seru dan entertaining!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s