trip Kuala Lumpur – Bangkok

Hai – hai,

Tanggal 30 Mei – 3 Juni 2015 ini, Alhamdulillah saya ditemani Fika Andriani berkesempatan jalan-jalan. Nah, apa sih gaya kami jalan-jalan hehe. Menurut saya sih, kami ini flash-packer. Budget-nya antara backpacker dan luxury. Jadi, kami tetap mau sisi travelling dan adventure-nya, tetapi gak mau kehilangan kenyamanan juga hehe.

Tiket

Kami dapat promo Air Asia dari Jakarta ke Kuala Lumpur 130ribu saja + airport tax. Esoknya, dari KL ke Bangkok pakai Malindo Air 700rb, dan baliknya 1juta pake Tiger Air transit Changi Airport. Sedikit cerita tentang Malindo Air, dia ini ya masih saudaraan sama Lion Air. Enaknya, ada in-flight entertainment walaupun gak disediakan headset. Jarak antar-seat agak luas, semacam Batik Air mungkin ya. Total tiketnya, so so lah, gak mahal banget tapi juga gak murah-murah banget. Awalnya dapet promo Garuda 3,6 juta pp, tapi waktunya kurang pas hehe.

Kuala Lumpur

Kami berangkat dari Cilegon naik Damri (60ribu) menuju bandara Soekarno-Hatta. Pesawat sempat delay 20 menit, berangkat sekitar jam 13.30, sampai di KL jam 16.30 (waktu KL lebih cepat satu jam daripada Jakarta). Kemudian, karena kelaparan, kami pun makan di KL. Agak mahal sih, sekitar MYR25. Hehehe. Resto gitu, tapi enak, jadi ya worth it aja. Kemudian naik KLIA Ekspress (MYR 35 one-way), keretanya semacam kereta eksekutif kalo di Jawa gitu, enaknya lagi, free wifi! Hehehe, namanya juga di negeri orang, jadilah kami fakir wifi hehehe. Kurang lebih 30 menit sampai di stasiun KL Sentral. Nah di disitulah salah satu kebegoan kami. Jadi, di Malaysia itu ada beberapa jenis dan line kereta. Yaitu LRT dan monorail. Sebelum ini, pernahnya jalan ke Singapore yang all MRT kan, jadi dipikir ya semua integrated gitu hahahaha asumsi bodoh. Meski begitu, pembelian tiketnya integrated. Jadi, kami beli buat ke Medan Tuanku, tapi justru masuk ke line Kelana Jaya karena ditunjukin sama petugasnya gitu. Udah nyadar kalo ga bener, akhirnya instead of disuruh turun di Masjid Jamek, kami pun lanjut ke stasiun Dang Wangi. Untunglah dari Dang Wangi ke hotel kami di Tune Hotels ternyata cuma 300 meter-an. Fyuuh.

Review dikit tentang Tune Hotels ya. Kami dapet rate cm IDR 280ribu semalem. Double bed enak, dapet amenities, full AC (ada paket yang gak full), gak include breakfast, yang penting free wifi. Lokasinya cukup strategis, dekat stasiun, dekat Mall AEON, banyak makanan juga dekat situ, ada Sevel juga. Gak ada lemari di kamar, Cuma ada gantungan baju aja. Staff-nya baik-baik, ringkas, dan helpful.

Berhubung Fika tuh cepat lapar hahaha selama perjalanan sering banget saya ngomong “Pik, gue agak laper nih, pasti lo udah laper banget”, malamnya cari makan dekat situ. Semacam street food, Fika beli semangkok Laksa (MYR5) yang rasanya lumayan nendang. Jalan-jalan sekitar situ, trus tidur deh.

Besoknya, kami pun jalan ke icon Malaysia, Petronas Twin Tower, yang ada di daerah KLCC. KLCC Park ini bagus deh, ada kolam yang air mancurnya bagus banget, ada jogging track juga, banyak bangku-bangku kayu untuk duduk. Banyak tanaman juga, jadi walaupun panas banget, tapi masih ada sejuk-sejuknya. Rasanya gak ke Malaysia kalau gak foto di sana kan, hehe jadi kami pun ala-ala turis lain, foto-foto di KLCC. Agak tricky memang untuk dapet view yang bagus ke tower-nya, dan katanya sih lebih bagus kalo malem.

20150531_105153

spot wajib foto kalo ke KL

 

Habis itu, kami lanjut ke Masjid Jamek, masjid tertua di Malaysia. Aslinya masjidnya gak terlalu besar, tapi serambinya luas. Dari situ, kami jalan ke Kuala Lumpur City Gallery. Nah ini salah satu value yang saya dapat dari backpacker pertama saya ke Singapur dulu, yaitu mendatangi city gallery. Negara yang lagi develop tourism-nya pasti punya city gallery yang bagus, termasuk di Malaysia. Masuknya bayar MYR5 (bisa jadi voucher untuk beli souvenir). Seperti halnya di Singapore City Gallery, masuk KL City gallery diawali dengan foto-foto KL dari jaman dulu sampai jaman sekarang, yang menarik ada suatu ruang gelap yang disitu ada peta 3D miniature KL, jadi bangunan-bangunannya pun dibuat mirip, hanya lebih kecil. Di situ ada video tentang perkembangan tourism di KL, dan peta itupun disorot dengan lighting yang cantik, bagus deh !

20150531_124956

in front of KL City Gallery

Dari situ, kami makan ke Burger King, yang anehnya di paket menunya, ada jagung rebus (semacam jagung rebus mang-mang gerobak hehe) lalu naik kereta ke KLIA. Nah, salah satu masalah muncul, yaitu, saya kena penyakit segala umat, flu! Sebenarnya saya udah bawa stock obat flu dan tolak angin (eh sebut merk), tapi cuma dikit, jadilah kami nyari obat di KLIA. Ternyata, mendapatkan obat flu di sana itu susah, harus pakai resep dokter, gak ada lah obat yang biasanya di warung itu under 10.000. Akhirnya saya belilah, semacam obat herbal flu gitu, seharga MYR 7. Oh ya, nyari-nyari tolak angin pun ga ada, mungkin iklannya rada dusta, hehehehe.

Flight-nya lancAr pake Malindo. Kami berniat jajan popmie di pesawat (MYR 6, termasuk murah), tapi laris banget jualannya, sampe gak kebagian -_-

BANGKOK

Kami mendarat di Don Mueang International Airport, Bangkok (DMK). Flight Air Asia, Thai Lion Air, dan Malindo memang mendarat di sini, bukan di Suvarnabhumi. Bandaranya jaduuuul banget hehe tapi enaknya ya, jadi gak menyiksa kaki buat jalannya. Antrian imigrasi gila-gilaan hehe. Habis itu kami ke information centre, ketemu mas-mas Thailand, yang nunjukin kami harus naik apa ke hotel. Jadi kami naik bus A1 ke Mo Chit station. Di Thailand, bakal amazed banget sama kondektur bus dan public boat, karena kondekturnya cewe hehehe dan sangaaar. Kebegoan kereta terjadi lagi di Mo Chit, begitu turun dari bus, kami pun turun ke station MRT, padahal harusnya kita naik Sky Train, jadi harusnya ambil tangga ke atas. Bangkok Sky Train (BTS) ini system bayarnya selayaknya di Malaysia dan Singapur, tapi mesinnya gak terima uang kertas (kecuali waktu naik Airport Train). Kami turun di stasiun Ratchathewi, kemudian jalan ke hotel, kira-kira 300m. Alhamdulillah, di tengah kebimbangan hehe ada bapak-bapak Indonesia yang jalan mau ke masjid, dan kami pun dibantu cari hotel, plus ditunjukkan letak masjid dan resto halal. Kami nginep di Samran Place Hotel, hotelnya cenderung jadul, tapi kamarnya bagus, bersih, dan staff-nya responsif. Malemnya, kami nyari minimarket untuk beli pop mie hehe entahlah merknya apa, ga ada cap halal, jadi kami halal-kan dengan membaca bismillah ! hehehehe.

Keesokan paginya, kami naik BTS ke kompleks Mall Siam Paragon, tepatnya kami ke Siam Discovery menuju Madame Tussauds, tiketnya kami pesan online di web-nya Madame Tussauds. Well, gak sebesar perkiraan saya sih, tapi lumayan membunuh rasa penasaran. Tentu saja lumayan banget ngumpulin foto bareng-bareng patung lilin dr tokoh2 dunia hehe

20150601_110936

ada meja kerjanya Obama 😀

Setelah dari sana, kami jadi bingung mau ngapain karena hari masih siang. Akhirnya, kami ngopi-ngopi cantik di salah satu coffee shop di mall! Hahaha. Pasti lah ada aja yang komen, kalo hanya ngopi-ngopi cantik kan ga harus jauh-jauh ke Thailand, tapi ya berhubung kami liburannya pengen santai, jadi ga ada salahnya kaaan hehe.Kami shalat di mushola-nya Siam Paragon yang bersih bangeeet, btw banyak muslim Thailand juga lho. Lalu, kita lanjut ke SEA Aquarium. Nah, ini worth it bangeeet. Semacam Sea World dengan koleksi lebih banyak dan lebih bagus. Rasanya kaya balik lagi jadi anak kecil. Ada salah satu tribun yang di hadapannya ada aquarium besar berisi berbagai macam ikan kecil dan besar, rasanya saya betah duduk di situ seharian karena damai banget rasanya.

Habis itu, kami jalan-jalan cari oleh-oleh di MBK. MBK itu semacam ITC gitu kali yaaa, di sana banyak souvenir murah dan lucu, dengan kualitas bagus juga. Saran saya sih, siapin duit dan space di tas hahahaha karena di sini menggoda banget buat beli macem-macem. Habis itu, kami balik ke hotel, istirahat bentar, terus kami ke Masjid Darul Aman. Lokasinya di Petchaburi Soi 7, dari hotel kami harus nyebrang via jembatan penyebrangan. Di sana kami ikut jamaah shalat isya, trus ngaji dalam rangka nisfu syakban hehe *travelling edisi alim. Nah, jalan sedikit dari masjid itu ada resto halal yang jual makanan macem-macem. Saya pesan Tom Yam Kuung, Fika pesan hmmm apa ya, yang jelas 2 porsi hahahaha. Habis itu pulang dan tidur.

Keesokan harinya, kami pindah hotel, karena pengen nyobain nginep di hotel sekitar riverside Chao Praya. Kami nginep di Sunreno Serviced Apartment yang lokasinya di seberang Asiatique the Riverfront, semacam pusat shopping and dining di tepian Sungai Chao Praya. Btw, hotel ini recommended banget. Lokasinya, deket sama Asiatique, deket sama tempat naik public boat, di daerah yang rame, tapi suasana hotelnya tenang. Kamarnya gede, view ke Chao Praya, staff yang helpful, ada peralatan masak, piring sendok, dll, jadi nyantai kalo mau masak sendiri, harganya dibawah IDR 500k.

 

Setelah pindah hotel, kami nitip barang, kemudian pergi ke Grand Palace naik Public Boat. Btw, tempat naik public boat nya memang di sekitar kuil gitu, awalnya kami sempat bingung, dan nanya ke biksu ! hahahaha mana dia ga bisa bahasa Inggris, akhirnya pake bahasa tarzan hehehe. Lumayan murah, Cuma THB 15 satu orang hehehe.

Btw, karena banyak scam di Grand Palace, naik public boat adalah salah satu alternative karena keluar dari komplek dermaga, tinggal lurus, nyebrang, lurus lagi sampailah di gerbang Grand Palace. Jangan takut kena scam, karena sekarang udah banyak pengumuman-nya. Saran kalo ke Grand Palace bawalah minum atau minimal botolnya hehehe karena panas banget dan di dalem ga ada yang jualan. Jadi, Grand Palace ini kompleks istana dan kuil. Kuilnya gede banget, dengan bangunan – bangun semacam candi tapi berkilauan, indah, dan terjaga dengan baik. Tempatnya juga bersih. Kompleks istana nya indah banget. Bisa buat foto ala princess hehehehe.

20150602_102138

kuil-kuil keemasan di Grand Palace

Kami akhirnya menyerah muter-muter 2 jam-an, kepanasan, kemudian beli manga di pinggir jalan yang seger banget, terus naik kapal ke Yodpiman Rivermarket. Semacam Asiatique, tapi lebih baru, jadi masih sepi. Di situ makan di KFC, enaknya di sini, ada tempat refill air minum, jadi bisa ngirit hehehehe. Kami makan nasi dengan potongan ayam crispy yang dikasih saus spicy manis asam plus salad, doyan deh !

Habis itu, pulang dan bobo siang, tadinya mau nyobain Thai Massage tapi tempat yang deket hotel, ternyata mahal. Sorenya, kami jalan ke Asiatique, banyak barang keren-keren dan murah (sediain duit dan space buat belanjaaa), di sana kami makan kebab dan foto-foto. Tempatnya asik buat jalan-jalan dan nongkrong. Asiatique ini aslinya warehouse, kebayang kan warehouse dekat dermaga dengan atap tinggi dan suram, bangunan aslinya tetap dipertahankan, tapi dipugar. Jadi, bagus deh. Enak banget sore-sore minum yang seger, sambil ngobrol santai menikmati angin sepoi-sepoi tepat di sebelah Chao Praya.

20150602_183659

suasana di Asiatique The Riverfront

Habis dari situ, kami pun nyebrang menuju masjid (sayup sayup dengan suara orang ngaji). Yak, ada masjid (tapi lupa namanya). Epicnya, pas kami datang, disana lagi ada pengajian. Ya udah, kami pun shalat dan bergabung di pengajian, dan habis itu, kami diajak makan – makan di sana hahahaha. Habis itu balik ke hotel, packing, dan tiduuuur.

Besoknya, kami naik taksi ke stasiun BTS terdekat, terus naik BTS, transfer ke kereta menuju airport. Keretanya semacam KLIA Express. Pokoknya, saya salut deh sama system kereta bandara di dua negara ini. Berhubung sangat lapar, kami segera check inn, ngelewatin imigrasi yang ribet (buka sepatu plus diraba-raba hahaha, petugasnya cewe hehe), trus cari makan. Ada halal zone di sana, sayangnya harganya mahal banget, walaupun worth sama rasanya, sama makan pad thai (semacam kuetiauw dengan bumbu agak asam, pakai seafood, ada serbuk kacang) seharga THB 300, hiks. Kami naik Tiger Air, transit di Singapura, sampai Jakarta jam 7an malam, dan sampai Cilegon jam 10an malam.

Well, mungkin ini bukan kisah perjalanan terbaik. Tapi, kami merasa enjoy, merasakan sisi santai sekaligus sisi adventure-nya. Sejenak kami bisa melupakan tuntutan kerjaan kantor yang bikin kami berasa jadi kalkulator 8 jam sehari hehe. Untungnya, Fika adalah teman yang fleksibel untuk diajak susah-susah maupun senang-senang. Thanks Fika !

Ada beberapa tips dari perjalanan kami ini :

  1. Kalo pergi dengan teman, pastikan ada yg mencatat pengeluaran, kan pasti bakal banyak utang-utangan tuh hehehe
  2. Jangan terlalu impulsive pas beli tiket, dan sesuaikan dengan kemampuan. Ceritanya, awalnya kami mau ada rencana ke Pattaya karena dilarang ortu, trus km memutuskan mau ke Phuket karena ada promo Nok Air, sayangnya, credit card Fika kurang compatible untuk transaksi pakai currency asing, hiks.
  3. Saling mikirin temen selama perjalanan. Contohnya, si Fika kan gampang laper, jadi dikit-dikit kita berhenti jajan, sementara gue gampang haus hehe.
  4. Bawa tas karung, siapa tahu kita belanja dan kelebihan dari tas hehehe.
  5. Enjoy your travel! Jangan gampang bête karena hal kecil, jadikan setiap bagian perjalanan sebagai kenangan hehe. Pengalaman nyasar justru bisa jadi pengalaman yang lucu hehehehe.
  6. Santai aja, jangan sampe habis liburan malah sakit karena kecapean.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s